Jumat, 14 Februari 2014

Tatapan itu...


          Tatapannya sangat tajam. Bak sebuah silet yang siap menyayat hati ini. Aku hanya bisa diam menatap mata itu. Tapi dengan tambahan senyuman yang menghiasi wajahnya itu, ia tampak seperti orang yang sangat ingin dikasihani, sangat memelas.
          Dari matanya itu ia bagai bercerita padaku tentang betapa pahit kehidupan yang sudah ia rasakan selama ini. Bagai memohon kepadaku untuk membantunya keluar, keluar dari masalah-masalah yang sedang ia hadapi.

          Tapi dari tatapan itu juga tampak bahwa ia ingin mencoba dengan segala tenaganya untuk menghadapi semua itu. Tapi tetap saja, ia butuh bantuan, ia butuh dorongan, ia butuh seseorang yang selalu menyemangatinya, seseorang yang selalu ada ketika dia membutuhkannya, seseorang yang menjadi teman hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar