Kamis, 13 Februari 2014

Go To UAE...


Aku pergi ke Uni Emirates Arab, tepatnya ke Ruwais. Aku sengaja pergi ke sana untuk bertemu seorang karib lama, seorang sahabat seperjuangan. Aku sengaja pergi sana hanya untuk mengucapkan ucapan selamat ulang tahun.
Ia adalah Afi. Sahabat karib yang pernah menemaniku selama 3,5 tahun terakhir ini. Sahabat karib yang juga aku pernah merasakan macam - macam permasalahan kehidupan dengannya. Mulai dari kami yang saling bantu - membantu dalam berbagai hal, hingga kami yang pernah bermusuhan besar selama seminggu penuh yang hanya dikarenakan sebuah masalah sepele semacam kopas artikel blog. Mungkin karena saat itu memang sedang gencar-gencarnya peperangan blog informasi di sekitar pergaulan yang terjadi di sekolah kami. Tepatnya di sekitar pergaulan aku, Afi, Agus, dan beberapa teman lainnya.

Ia adalah Afi. Sahabat sekaligus menjadi saksi hidup pada tragedi Wotaisme : 1313 itu. Sahabat yang juga teman seperngaidolan ku. Sahabat yang juga pernah menertawaiku saat aku terpeleset ketika baru keluar dari Mushalla. Sahabat yang juga teman seperkhayalan ketika jam malam dan saat semua lampu telah dimatikan disehingga kegelapan menyelimuti asrama Essembel. Sahabat yang diantara kami juga ada rahasia-rahasia yang masing-masing dari kami belum memecahkannya dan menganggapnya sebagai suatu misteri, hingga hari ini.

Dari bandara aku langsung menuju ke alamat rumahnya. Aku berdiri di depan pintu, lalu mengetuknya. Aku langsung disambut oleh Afi dan keluarganya dengan sambutan yang begitu hangat, bak layaknya mereka menganggapku itu adalah bagian dari mereka sendiri. Aku pun diizinkan untuk menginap di rumah itu.

Afi seolah terkejut dengan kedatangan ku yang tiba-tiba. Menyadari kelakuan afi yang seperti itu, aku langsung melontarkan pertanyaan.
"Woy, ko tau tanggal berapa ini?"
"Ya, tentu. Ini tanggal 11 Maret, ada apa?" Ia seperti sedang menebak-nebak tentang apa kaitannya dengan tanggal hari ini.
"Hahaha... maaf aku gak bawa apa-apa. Aku bisanya cuma bawa diri. besok itu ulang tahun ko, ingat?"
Afi sempat terdiam sejenak
"Jadi ko datang jauh-jauh dari Aceh cuma untuk hal bodoh seperti ini? Mendingan ko samperin oshi ko di theater sana. Jauh lebih murah, bukan?"
"Itulah sahabat, lagian aku juga pengen rasain gimana itu Uni Emirates Arab yang kaya itu gimana. Hehehe..."

Afi akhirnya mengajak aku untuk berjalan-jalan di sekitar kompleksnya, Ruwais. Aku tak menolaknya. Tubuh ini bagai tak lelah walau baru saja melakukan perjalanan yang amat panjang. Ia sempat memperkenalkan ku pada beberapa teman-temannya. Mereka semua berbicara dalam bahasa Inggris yang teramat fasih. Namun diantara teman-temannya, banyak juga yang berasal dari tanah indonesia ini.

"Oi, ko liat anak yang diujung sana?" tanya Afi sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah kawanan beberapa remaja yang sedang tampak asik bercengkrama membahas sesuatu.
"Yang mana? terlalu banyak orang disana"
"Itu, yang pake jilbab, yang jilbabnya berwarna merah muda"
Pandangan ku yang semula mencari-cari kini terfokus kepada seorang perempuan cantik berwajah Indonesia namun juga seperti oriental, bertubuh agak tinggi untuk ukuran perempuan remaja, dan juga memakai jilbab berwarna merah muda.
"Itu kawan paling dekat aku disini. Tapi ingat, kami cuma temenan"
"Yaelah, siapa pulak yang berpikir berlebihan. Dasar ko, fi!"
"Sebenarnya yang aku suka ada. Cuma dia orang Philipine, dan masalahnya dia.... kristen!" Tampang lesu langsung terpampang mengganti ekspresinya sebelumnya terlihat begitu semangat dan ceria di sepanjang perjalanan ini.
"Yah, jangan lesu kek gitu juga lah, fi. Kalo ko emang betolan, coba berjuang bujuk dia ke Islam. Itupun kalo dia mau sama ko! Hahahaha...." Aku tertawa cekikikan sendiri, tapi Afi hanya terdiam. Tampak ia berusaha memikirkan kata-kata ku barusan.
"Tapi tenang, fi! Kalo ko gak dapatin yang itu, disana seseorang masih menunggu. Wan khairum minha, Wan lebih baik daripadanya." serobotku lagi
"Wah, dasar ko! Masa lalu jangan ko ungkit lagi" Aku hanya bisa ketawa. Begitu juga Afi, senyuman lebar menghiasi wajahnya...

Kami melanjutkan jalan ini. Bukannya mengarahkan ku kembali kerumah, ia malah membawa kami ke sebuah pantai yang berada tak jauh dari Ruwais. Pasir-pasir yang berwarna keemasan terbentang di bawah langit sore itu, begitu juga laut. Mereka menjadi pemandangan yang amat indah. Aku berdiri disebelah Afi menyaksikan itu. Aku merasakan hal aneh, mengapa hanya kami besaja yang menikmatinya saat itu, apakah orang-orang disini sudah sangat bosan dengan semua ini?

Perlahan kupalingkan wajahku ke kiri untuk melihat Afi, dan aku terkejut : ia hilang entah kemana. Lalu tiba-tiba debu-debu pasir pantai itu berterbangan mengitari tubuhku dengan sangat kencang. Pandanganku perlahan-lahan makin kabur, tubuhku terasa sangat lemah, dan tiba-tiba kesadaran ini mulai pudar hingga aku jatuh terbaring pingsan.

          Tiba-tiba aku terbangun. Terbangun disebuah ruangan yang jelas tak asing bagiku. Aku terbangun di kamar tempat tinggalku. Baju Batik ungu khas seragam hari Rabu dan Kamis masih menyelimuti tubuh ini. Aku mengarahkan bola mata ini kesana-sini. Kembali ku menyadari itu hanyalah sebuah mimpi.

          Karena mimpi itu, aku jadi teringat sosok Afi yang pernah menjadi teman terdekatku dari 96 siswa di Angkatan Delapan itu. Teringat pada aktivitas yang pernah terjadi, project-project yang pernah tergarap, juga lelucon-lelucon yang pernah kami tawakan bersama. Dan tidak lupa juga pada bagaimana ia selalu menganggap salah segala hal yang diperbuat oleh Sultan.

          Dalam waktu dekat di tahun ini juga ia akan kembali ke Indonesia ini, lalu aku, Afi, juga Sultan akan bisa berkumpul dan pergi bersama lagi, buat project lagi, minum kopi bareng lagi, ngaidol bareng lagi, juga aku akan menantang kemampuannya menari diatas keyboard untuk berFIFA-ria bersama, lagi...

Aku berusaha menggerakkan badan ini tapi semuanya terasa berat dan lemah. Aku hanya terbaring, yang kuingat sedang meriang dan demam. Aku berusaha melihat arloji yang kurang lebih menginformasikan bahwa jam sudah menujukkan pukul 12:35. Ternyata aku hanya tertidur selama 20 menit, dan aku puas. Itu adalah 20 menit yang menyenangkan untuk bisa mengingat seorang karib lama...

I’ll go to UAE, Fi..... but not now!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar