Selasa, 14 November 2017

Bolehkan Aku....... Membuatmu... Bahagia?


Saat itu sedang pagi-pagi buta di daerah pinggir perkotaan, setelah sekian menit melaju kendaraan roda dua bermotor ini hingga akhirnya sampailah ke daerah ini. Semuanya telah menunggu, sepertinya mereka telah siap untuk menaiki truk yang besar itu. Satu per satu dari mereka mencoba untuk memasukkan tubuhnya kedalam bak yang besar itu. Tak terkecuali aku yang sepertinya tak terlalu memerlukan usaha lebih untuk menaikinya. Semua telah pada tempatnya, dan kita siap untuk berangkat.

Jumat, 12 Mei 2017

Lantang



Ingin berkata tapi kukira kau bakal muak
Ingin kubilang tapi kaukira aku berbohong
Ingin kukatakan tapi tak satupun didengarkan
Ingin kukeluarkan semua yang meresahkan hati 
tapi tak ingin meresahkanmu

Jumat, 03 Maret 2017

Nyctophile

Sebuah kaki berjalan dengan adanya menyapa rerumputan yang tak segan untuk memeluknya. Ketika sebuah hati telah menyapa yang bahkan tidak bisa disapa. 

Ketika ia tak mengetahui ada seseorang yang sedang setia menunggu disudut persimpangan. Melewati waktu tanpa harus beranjak pergi. Dan ketika sang rembulan telah menyapa seluruh alam semesta untuk diajaknya bernostalgia. Tentang rawa yang didiami para ikan yang selalu bercanda ketika sang pelepah telah jatuh.

Ia berjalan hanya sendiri, menembus kegelapan. Tak ditemani apapun, tanpa kecuali sapaan sang rembulan. Dia hanya ingin berpikir tentang bagaimana cara ia berpikir. Selangkah demi selangkah, ia tapakkan kakinya bertemu tanah. Dan mulai perlahan berlari hingga ia terjungkal. Namun ia tak pedulikan kakinya yang luka. Dia lari mengejar sang takdir.

Di tengah mimpi indah ibunya, ia berlari sendirian di tengah savana yang luas. Bermandikan cahaya rembulan yang dingin dan mengikat. Rekahan senyumnya tak bisa terbantahkan. Ia sang bintang. Sang bintang yang kesepian.

Pluviophile.


Ketika sebuah bayangan telah hadir di malam yang sangat sunyi. Ketika ia berteriak kepada alam, "Aku disini!".

Mencerca semua bintang yang berkerumun bersama di atas langit yang indah. Meninggalkan ia sendiri di tengah gelapnya jalan pikiran yang ia hadapi. Ketika rintik hujan mulai turun meninggalkan tempat tinggal sebelumnya, ia tak kunjung bergegas. Hanya berjalan meratapi sepatu kulit yang ia kenakan. Sambil tertawa dibawah lampu yang mencoba menemani tangisnya yang terbawa oleh aliran hujan. Tak tahu sampai kapan kaki ini akan berhenti, begitu katanya. 

Tak lama hujan makin terasa deras dan menimbulkan badai. Ia hanya berjalan tapi tak sendiri lagi. Ada sosok anak kecil membantunya untuk tetap berjalan. Anak tersebut mendorongnya dari belakang, sehingga ia agak terjungkir kedepan, namun tetap berjalan walaupun diterpa badai. 

Entah berapa lama ia telah berjalan hingga ia sampai ke sebuah perbukitan yang tinggi. Hujan telah lama tiada, namun awan-awan baru mencoba untuk berpamitan satu sama lain, dari celah-celah awan yang telah berkerumul itu menusuklah beberapa cercah cahaya, yang siap memanjakan matanya terhadap suatu padang yang sangat luas yang terbentang dengan dipisah satu jalan setapak yang telah diaspal. Ia berlalu, dan ia sendiri lagi.