Senin, 12 Mei 2014

MTQ Banda Aceh XXXIII, Yang Pertama dan Akan Terus Berlanjut

Kemeriahan MTQ, bukanlah sebuah lomba yang dikesampingkan
MTQ, apa yang ada dibenakmu ketika kata itu pertama kali muncul? Panggung, meriah, semarak, tepuk tangan, juga peraduan. Lantunan, rebutan, hadiah, tenar, dan kebanggaan. Aku pernah bermimpi untuk bisa berpartisipasi aktif di perlombaan MTQ tersebut, tapi mungkin itu adalah sesuatu yang berat untuk dicapai. Hanya orang-orang yang berkemampuan yang luar biasa sajalah yang bisa menjadi peserta di ajang itu, pikirku. 

Dalam lingkungan sekolahku yang tinggal berasrama --karena pesantren, disana cukup banyak orang-orang yang sangat berpengalaman tampil di berbagai ajang MTQ yang ada, baik itu murid maupun ustadznya --red: guru. Aku sangat tertarik dengan MTQ cabang Fahmil Quran. Mungkin karena ada seorang teman kelas yang berpengalaman dalam cabang MTQ ini, dia bahkan seorang juara dari MTQ tingkat provinsi yang lalu, padahal ia baru duduk di bangku kelas X.
Logo MTQ Banda Aceh XXXIII
MTQ Banda Aceh XXXIII --red: 33-- telah diumumkan, aku tidak mau membuang kesempatan ini dan langsung masuk ke klub fahmil yang ada dipesantrenku itu. Aku mulai belajar. Namun, saat ditengah jalan aku berpikir kalau itu terlalu berat untukku. Apalagi itu sangat mengganggu jatah tahfizh Quranku yang ku targetkan untuk 3 juz dalam waktu sesingkat-singkatnya. Jadi aku lebih memilih untuk mundur dari klub itu dan kembali berfokus untuk belajar dan menghafal.

Namun, tiba-tiba pada tanggal 8 Mei yang lalu --2 hari sebelum lomba-- aku dipanggil oleh salah seorang peserta klub fahmil untuk bergabung dengannya untk berpartisipasi dalam kompetisi itu, aku langsung menerimanya. Aku mendapat kecamatan Ulee Kareng. Dari saat itu pula, aku langsung menyiapkan bekal dari awal kembali. Ku kaji ulang buku-buku fahmil itu. 
Panggung utama MTQ Banda Aceh XXXIII, -(photo by: nformasi-syarif.blogspot.com)
Hari itu tiba, 10 Mei sudah terbit. Pada malam itu pembukaan cukup meriah. Dihadiri oleh Illiza, sang wali kota dan beberapa orang-orang penting lainnya. Aku dan teman-teman setim fahmil --CM Habiburrahman dan Ghufran Wahyudi-- berjalan berdampingan. Kami berjalan di kontingen Ulee Kareng bersama beberapa orang yang kami tidak kenal. 


Para juri pada pembukaan MTQ -(photo by: radioseulaweut.com)

Hari selanjutnya adalah jadwal MTQ cabang Fahmil, aku dan tim sudah bersiap-siap. Kami mendapat undian babak pertama bersama kec. Syiah Kuala di regu B dan kec. Lueng Bata di regu C. Hasil akhirnya cukup, atau sangat memuaskan. Kami memenangkan babak itu dan berhak melaju ke final bersama Syiah Kuala yang menempati peringkat 2 di babak itu dan meninggalkan Lueng Bata di penyisihan.


Final akan diadakan rabu ini. Daftar kafilah yang lolos ke Final (4 kec. dari 7 kec) :
1. Ulee Kareng
2. Syiah Kuala
3. Baiturrahman (ini saingan berat)
4. Kuta Alam (tuan rumah, dan ini saingan paling berat)

Target kami cuma meraih juara 3 saja, tapi kalau bisa lebih kenapa tidak?
Juara 1 - Rp 8jt

Juara 2 - Rp 6jt
Juara 3 - Rp 4jt

GImana, lumayan sekali 'kan?


"Ini adalah MTQ pertama, dan akan terus berlanjut... "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar