Minggu, 01 Juni 2014

Meriah, Semarak dan Peraduan di Final Fahmil MTQ Banda Aceh XXXIII

Permalink gambar yang terpasang
Panggung MTQ Banda Aceh XXXIII di Mesjid Al-Makmur (Oman), Lampriet
4 grup dari 4 kecamatan berbeda bertarung habis-habisan untuk mendapatkan kemenangan di final MTQ Banda Aceh cabang Fahmil Quran. Mereka adalah kec. Syiah Kuala di regu A, kec. Ulee Kareng di regu B, kec. Kuta Alam di regu C, dan kec. Baiturrahman di regu D. Mereka sebelumnya telah berhasil bertahan dan menyingkirkan sebagian penantang di babak penyisihan. Kini mereka bertarung untuk memperebutkan juara, atau pulang dengan tangan kosong.

Aku yang menjadi peserta dari kecamatan Ulee Kareng juga dapat merasakan kemeriahan babak akhir itu. Dan juga bisa merasakan suatu hawa yang mungkin hanya peserta dan official yang bisa merasakannya, tidak dengan penonton. Perasaan yang mendesak untuk melakukan yang terbaik dan tidak mengecewakan mereka yang menaruh ekspetasi yang tinggi.Tapi saat inilah yang kami sangat nantikan. Inilah yang menjadi tujuan dan target kami dari awal.

Lomba dimulai. Target hanya juara 3. Kami percaya dan kami optimis. Karena kami pernah mengalahkan pemain-pemain regu A di babak penyisihan lalu dengan telak. Soal-soal pemerataan dikeluarkan. Soal kami ini kurasa yang paling sulit ketimbang regu lain, apakah kita harus menyalahkan seorang CM yang telah salah mengambil amplop soal undian yang menyebabkan soalnya begitu srekkk..

Pemerataan usai, kami setara dengan grup A. Sementara Kuta Alam dan Baiturrahman telah unggul diatas. Maklum, mereka adalah orang-orang berpengalaman yang sudah pernah bermain di kasta Provinsi sana. Sedangkan kami berdua --Ulee Kareng dan Syiah Kuala:red-- hanyalah amatir biasa yang mendapat kesempatan untuk merasakan final yang megah ini.

Lontaran melonjak. Kami tidak mendapatkan satupun soal untuk dijawab. Bukan karena kami tak tahu jawaban, tapi selalu saja kalah cepat dalam hal permainan bel. Walau semua kecepatan dari diri kami telah kami kerahkan, seberapapun kerasnya, seberapapun cepatnya, tapi entah mengapa selalu kalah dari mereka. Alhasil kami tak dapat menambah bulir-bulir poin di babak itu.

Pemenangpun ditentukan, Baiturrahman memenangkan final itu dengan nilai mencapai 1500. Di posisi kedua ada Kuta Alam dengan nilai 900. Sedangkan karena kami dan Syiah Kuala berpoin sama, kami akan mendapat soal tambahan. Andai jika kami mendapat satu poin saja di babak tadi, kami akan langsung merengkuhnya.

"Soal tambahan. Kali ini mengenai tajwid, apabila huruf diucapkan maka akan menyebarnya angin dari mulut..." 
TEEEETT..... 
"Tafasyi.."
"Ya, benar... dengan ini juara 3 diraih oleh SYIAH KUALA!"
Lagi-lagi, permainan bel yang sangat menyebalkan. Kami mengetahui jawaban, tapi selalu kalah cepat di permainan akhir. Betapa sialnya. Orang yang sudah kami kalah telakkan di penyisihan --saat itu kami 850, Syiah kuala 300, Lueng Bata 200.

Tapi itu semua memberi hikmah yang dalam buat kami, walau terdapat perasaan yang sangat kesal dan tak percaya. Tapi kami harus tetap realistis dan berkepala tegak.
Mungkin kesempatan kami ada pada yang berikutnya, atau bukan disini. Kami akan tetap mencari dimana kami akan mendapatkan kemenangan itu. Kami akan tetap berusaha.

Juara I Fahmil Putra MTQ Banda Aceh XXXIII
Kecamatan Baiturrahman -- Hadiah 8jt per orang.
Imam Muyassar --Jubir--(RIAB), Aulia Rauyan (RIAB), ????? --adiknya Imam Muyassar--(???)




"Ini adalah MTQ pertama, dan akan terus berlanjut..."

2 komentar:

  1. Pengalaman yang membanggakan ya, semoga kedepanya lebih baik! Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. weh, kang galih bisa mampir juga dimari.. amiin kang :D

      Hapus