Jumat, 03 Maret 2017

Pluviophile.


Ketika sebuah bayangan telah hadir di malam yang sangat sunyi. Ketika ia berteriak kepada alam, "Aku disini!".

Mencerca semua bintang yang berkerumun bersama di atas langit yang indah. Meninggalkan ia sendiri di tengah gelapnya jalan pikiran yang ia hadapi. Ketika rintik hujan mulai turun meninggalkan tempat tinggal sebelumnya, ia tak kunjung bergegas. Hanya berjalan meratapi sepatu kulit yang ia kenakan. Sambil tertawa dibawah lampu yang mencoba menemani tangisnya yang terbawa oleh aliran hujan. Tak tahu sampai kapan kaki ini akan berhenti, begitu katanya. 

Tak lama hujan makin terasa deras dan menimbulkan badai. Ia hanya berjalan tapi tak sendiri lagi. Ada sosok anak kecil membantunya untuk tetap berjalan. Anak tersebut mendorongnya dari belakang, sehingga ia agak terjungkir kedepan, namun tetap berjalan walaupun diterpa badai. 

Entah berapa lama ia telah berjalan hingga ia sampai ke sebuah perbukitan yang tinggi. Hujan telah lama tiada, namun awan-awan baru mencoba untuk berpamitan satu sama lain, dari celah-celah awan yang telah berkerumul itu menusuklah beberapa cercah cahaya, yang siap memanjakan matanya terhadap suatu padang yang sangat luas yang terbentang dengan dipisah satu jalan setapak yang telah diaspal. Ia berlalu, dan ia sendiri lagi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar